KH. Sayyid Djamaluddin Assegaf Puang Ramma

KH. Sayyid Djamaluddin Assegaf Puang Ramma salah satu muassis NU Sulawesi Selatan dan mursyid ke-12 Tarekat Khalwatiyah, dikenang jasa-jasanya, didoakan dan tabarruk yang dikemas dalam acara haul insyaAllah dilaksanakan pada hari Ahad, 11 Februari 2024, mulai pukul 09.00 wita di Asrama Haji Sudiang Makassar.

Sebagaimana haul-haul tahun sebelumnya, para murid Puang Ramma berkumpul sekira 3000-an jamaah. Haul ke-18 tahun ini diperkiran jamaah beliau yang hadir semakin banyak seiring bertambahnya jamaah Tarekat Khalwatiyah, sebab saat tongkat kemursyidan dilanjutkan oleh Puang Makka jamaah Khalwatiyah mencapai angka 40.000-an pengikut dan tersebar di berbagai wilayah dan daerah.

Mengenang Puang Ramma yang wafat 15 Sya’ban 1427 (8/9/2006) telah memasuki haul ke-18 tahun atas wafatnya tokoh kharismatik dan ulama sufi ini mengingatkan kita pentingnya untuk mengikuti sosok beliau sebagai ulama sufi, dan pejuang umat dalam empat zaman, sejak masa Jepang, Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru, yang banyak mewarnai aktivitas keagamaan masyarakat di Sulawesi Selatan, namun pengaruhnya ternyata menembus jauh ke seluruh pelosok Nusantara, terutama sejak dipercaya menjadi anggota Dewan Konstituante, tahun 1955-1959.

Haul dalam bahasa Arab diartikan setahun memperingati wafatnya seseorang yang dimuliakan. Tujuannya adalah untuk mengenang jasa-jasanya. Sama halnya dengan seorang anak yang baru lahir ada aqikah pada hari ketujuh atau bagi yang wafat ada hari ketujuh sebagai rangkaian dari takziah sampai untuk acara tahunan sebagai padanan dari haul bagi yang masih hidup diistilahkan dengan Ultah, Happy Birthday atau untuk instansi tertentu misalnya Kemenag adalah HAB, ormas Islam adalah Milad, untuk negara adalah HUT.

Kegiatan haul sangat dianjurkan karena term haul tersebut tersurat dalam QS. al- Baqarah/2: 240 dan QS al-Ra’d/13: 24. Selain itu, kata haul dan implementasi pelaksanaanya juga disebutkan dalam hadis bahwa Nabi saw setiap tahunnya memperingati hari wafat para syuhada Uhud dengan cara mendoakan secara khusus bagi mereka dan mengunjungi makam mereka dan bersalam atasnya dengan ucapan Assalamu alaikum bima shabartum  fani’ma ‘uqba al-dar (selamat atas kalian para syuhada maka kesejahteraan kalian peroleh sebagai balasan di akhirat sebab kesabaran kalian).

Dalam sirah hidupnya, Puang Ramma selain sebagai muassis NU bersama KH Ahmad Bone, KH Muhammad Ramli, Andi Mappayukki, KH Saifuddin, KH Mansyur Daeng Limpo dan beberapa ulama sejawatnya, Puang Ramma juga dipercaya sebagai bagian dakwah di awal berdirinya ormas yang berbasis Aswaja, NU Sulawesi Selatan. Tahun 1970-1977 beliau sebagai wakil Rais Syuriah NU mendampingi KH. Ahmad Bone sebagai Rais Syuriah dan tahun 1977-1982, Puang Ramma sebagai dewan Syuriah NU, selanjutnya Puang Ramma menjabat mustasyar PWNU Sulawesi Selatan sampai akhir hayatnya

Puang Ramma juga sebagai pendakwah yang diterima oleh semua lapisan masyarakat. Beliau memesankan agar berdakwah haruslah dengan hati yang jernih, tulus dan Ikhlas. Dengan dakwah demikian akan masuk dihati umat dan agar hati kita ini jernih maka banyaklah berzikir. Itu pesan beliau.

Puang Ramma, telah banyak meninggalkan warisan terbaik dan dinikmati generasi setelahnya, telah mewariskan jasa yang banyak dikenang, telah menitipkan ilmu dan hikmah kepada murid-muridnya, jamaahnya dan umat untuk diselami.

Karena itu, bagi jamaah Khalwatiyah diwajibkan untuk mensyiarkan haul ke-18 atas wafatnya Puang Ramma dan tentu diharapkan bagi kaum Nahdliyyin, jamaah NU khususnya di daerah ini untuk melibatkan diri untuk tabarruk, meraih keberkahan  pada momentum tahunan Haul terebut. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

Machmud Suyuti (Dosen UIM Al-Gazali, Katib 'Am Jam'iyah Khalwatiyah)