Kepala Laboratorium Hadis yang juga dosen Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Pendidikan Agama Islam (FAI) Universitas Islam Makassar (UIM Al-Gazali) Masri memperoleh gelar doktor setelah mempertahankan desertasi dengan judul “Hak dan Kewajiban Suami Istri dalam Perspektif Hadis Nabi Saw.” Ujian promosi Doktor Masri berlangsung di Aula Fakultas Tarbiyah UIN Alauddin Makassar, Selasa, (29/8/2023).

UIM NEWS – Kepala Laboratorium Hadis yang juga dosen Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Pendidikan Agama Islam (FAI) Universitas Islam Makassar (UIM Al-Gazali) Masri memperoleh gelar doktor setelah mempertahankan desertasi dengan judul “Hak dan Kewajiban Suami Istri dalam Perspektif Hadis Nabi Saw.” Ujian promosi Doktor Masri berlangsung di Aula Fakultas Tarbiyah UIN Alauddin Makassar, Selasa, (29/8/2023).

Tampak hadir dalam Promosi Doktor, Ketua Dewan Guru Besar UIM Al-Gazali yang juga Rais Syuriah PWNU Sulsel Prof. Dr. KH. Najamuddin dan Katib Syuriah PWNU Dr. KH. Ruslan, Wakil Rektor II, Badaruddin Kaddas, M.Ag., Ph.D., Sekertaris Rektor UIM, Dr. Musdalipa, Dekan Fakultas Agama Islam (FAI UIM Al-Gazali), Dr. Djaenab.

Dalam wawancara singkatnya, Wakil Rektor II, Badaruddin Kaddas, M.Ag., Ph.D menyampaikan ucapan selamat, dan bisa menjadi motivasi untuk dosen-dosen UIM Al-Gazali untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas diri.

“Selamat kepada Dr. Masri S, S.Th.I., M.Th.I atas keberhasilannya meraih gelar Doktor. Semoga gelar ini dapat menjadi motivasi bagi dosen-dosen lainnya untuk terus meningkatkan kompetensi dan kualitas diri,” ujar Badruddin Kaddas.

Dalam penelitiannya promopendes menyatakan banyak faktor yang dapat menyebabkan gagalnya tujuan bersama suami-istri dalam mewujudkan keluarga bahagia. Adanya ketidakadilan gender ditengah-tengah masyarakat yang mengarah pada pelanggaran hak asasi manusia, terlebih hadis sebagai sumber otoritas keagamaan dalam Islam menjadi alat untuk melegitimasi tindakan tersebut.

Ditemukan beberapa hadis yang mengesankan bias gender yang mana hadis tersebut seolah-olah sangat membatasi perempuan sebagai istri dalam beribadah.

Seperti hadis yang berbunyi “Seorang wanita janganlah berpuasa (sunnah) ketika suaminya ada, kecuali dengan seizinnya. Dan jangan pula ia membolehkan orang lain masuk ke rumahnya melainkan dengan izin suaminya. Dan sesuatu yang disedekahkan oleh sang istri dari usaha suaminya tanpa perintah suami, maka setengah dari pahala sedekah itu bagi suaminya.”

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah yang sekaligus menjadi tujuan pada penelitian ini, adalah untuk mengetahui metode memahami hadis-hadis Nabi mengenai hak dan kewajiban istri dalam rumah tangga yang mengesankan bias gender, serta untuk mengetahui hak dan kewajiban istri antara perspektif hadis dan HAM.

Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan metode analisis deskriptif dengan jenis penelitian bersifat kualitatif. Pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah pendekatan kontekstual. Sumber data primer yang digunakan meliputi al-Qur’an dan kitab-kitab induk hadis melalui bantuan aplikasi lidwa pusaka dan maktabah syamila. Sedangkan data sekunder didapat dari buku-buku yang berkaitan dengan sumber primer, seperti kitab Fath al-Bari, Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, dan buku-buku yang memuat teori atau sejarah yang dibutuhkan oleh penulis.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hadis-hadis mengenai hak dan kewajiban istri kepada suaminya tidak ada yang bias gender jika dalam memahami hadis-hadis Nabi tersebut dengan menggunakan pendekatan kontekstual, yaitu dengan melihat kembali konteks munculnya hadis, baik konteks makro maupun mikro. Dan persamaan yang terdapat dalam hadis Nabi dan HAM mengenai hak dan kewajiban istri adalah seimbang dengan hak dan kewajiban suami dalam kehidupan rumah tangga, imbuh Masri.

Leave a Comment