Iman-Taqwa dan Kecintaan pada Tanah Air

Oleh : Prof. Dr. Ir. Mir Alam Beddu,MSi, Guru Besar Ekologi Pertanian UIM Makassa, Dosen LLDIKTI Wil.9 Sulawesi dan Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian PWNU Sulawesi Selatan

KETAQWAAN yang kita raih setelah Ramadhan haruslah dibuktikan, dipertahankan dan ditingkatkan terus secara istiqamah. Ketaqwaan adalah segalah bentuk amalan sholeh yang dilandasi dengan keimanan. 

Tidak terlepas dari (1) amalan sholeh yang berhubungan dengan ibadah ritual, (2) amalan sholeh yang berkaitan dengan hubungan social, kemasyarakatan, berbangsa, bernegara bahkan mendunia. menghadirkan cinta dan kasih sayang dalam interaksi social, dan (3) yang berkaitan dengan interaksi makhluk selain manusia baik yang hidup maupun tak hidup (tanaman-hewan-tanah-air dan udara). 

Mencintai bumi Indonesia adalah bagian dari keimanan dan ketaqwaan. Ketiga hubungan di atas harus dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya untuk mewujudkan Islam Rahmatan lil aalamin di Negara yang tercinta ini. Negara yang baldatun tayyibun warabbun gafur.

Apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan ketaqwaan sekaligus mewujudkan rasa cinta pada Tanah Air, menjaga keutuhan NKRI al: sebagai berikut: 

1. Pertahankan atau lanjutkan amaliyah mulia bulan suci ramadhan, diluar bulan ramadhan, karena hanya bulannya yang pergi amliahnya tetap membuka diri untuk diamalkan (ada puasa sunnat, senin-kamis, ayyaamul bidh 13-14-15 bulan qamariyah, ada puasa daud, puasa arafah, lanjutkan sholatul lail shalat tahajjud, membaca dan mengkaji al quran, solidaritas sosial dan lingkungan  infak sedekah), 

2. Buktikan cinta kita kepada Negara dengan memahami tes dan makna simbol-simbol negara, selanjutnya menerapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Proklamasi (pernyataan tekad kemerdekaan), harus diterjemahkan dan dibuktikan dalam kehidupan pribadi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, berusaha bersama untuk memerdekakan diri dari segala aspek penjajahan (pikiran, ekonomi, politik, pendidikan).

Kebinnekaan dalam kesatuan dan persatuan  (keberagaman adalah sunnatullah, sumber kekuatan, keindahan ketika dikelola dengan baik sesuai rambu-rambu agama dan Negara., UUD dengan Mukaddimahnya, memberikan pesan bahwa yang mendasari perjuangan adalah keikhlasan, spiritulitas, Rahmat Allah mendapatkan berkah dalam wujud kemerdekaan menuju pada KESEJAHTERAAN  MASYARAKAT yang berkeadilan sosial (Allah memerintahkan dan mencintai masyarakat yang berbuat adil (inaallaaha yuhibbul mukhsithin). 

Pesan Pancasila untuk mewujudkannya adalah “ketauhidan” mempertuhankan Tuhan Yang Maha Esa, persatuan dan kesatuan, saling menghargai, membangun kedamaian, bermusyawarah dalam merumuskan kebijakan dan mengambil keputusan.  

Persatuan dan Kesatuan itu menurut Prof. Dr. K.H. Qurais Sihab memiliki tiga arti.

“Pertama, kesatuan seluruh makhluk karena semua makhluk kendati berbeda-beda namun semua diciptakan dan di bawah kendali Allah,” 

Kedua adalah, karena semua manusia berasal dari tanah sehingga semua manusia harus dihormati kemanusiannya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat walau mereka durhaka.

Ketiga adalah kesatuan bangsa meski berbeda agama, suku, kepercayaan maupun pandangan politik., kemuliaan manusia diukur ari ketaqwaan

Bentuk implementasi cinta yang lain adalah  menjaga bumi/alam lingkungan  Indonesia dari eksploitasi dan kerusakan (Allah tidak menyukai hambanya, masyarakat yang berbuat kerusakan Innallaha laa yuhibbul mufsidin, laa yuhibbul fasad).

Cinta tanah air itu memiliki hubungan langsung dengan agama, keimanan dan ketaqwaan. Agama telah menganjurkan manusia mencintai negara tempatnya tumbuh dan berkembang.  Ketika Nabi SAW hendak berhijrah ke Madinah karena tindakan repressive kaum musyrikin dan kafir Quraisy Nabi SAW bersabda, “Betapa indahnya engkau wahai Makkah, betapa cintanya aku kepadamu. Jika bukan karena aku dikeluarkan oleh kaumku darimu, aku tidak akan meninggalkanmu selamanya, dan aku tidak akan meninggali negara selainmu.

Sayidina Ali pernah menyatakan: “Sesungguhnya negara dapat makmur dengan adanya cinta pada tanah air.” Pada kesempatan lain, beliau berkata: “Salah satu tanda kemuliaan seseorang adalah tangisannya atas apa yang telah berlalu dan kerinduannya pada tanah airnya.”

Bumi/Tanah air Indonesia adalah ibu pertiwi yang sangat mencintai kita sehingga mempersembahkan segalanya buat kita (huwalladzii khalaqa lakum maa fil ardhi jamiia), Anak bangsa pun secara naluriah mencintainya. Itulah fitrah, naluri manusiawi, karena itu hubbu al-wathan minal iman, cinta tanah air adalah manifestasi dan dampak keimanan

Pandemi covid-19 yang belum berakhir dan kita tidak tahu kapan berakhir, mari kita perbanyak merenung (pribadi-pribadi, masyarakat-pemimpin paling rendah-pemimpin bangsa dan pemimpin dunia), mengakui kelalaian kita dan, istigfar mengakui kesalahan dihadapan Allah (Innallaaha yuhibbutawaabiina wayuhibbul mutatahhirin) bertaubat kembali menata hidup dan kehidupan sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan oleh Allah (agama), disepakati dalam bentuk regulasi/aturan untuk menata  organisasi, kehidupan berbangsa dan bernegara, menjaga NKRI. 

Istiqaamah memelihara  dan meningkatkan ketaqwaan melalui tiga dimensi amalan sholeh, akan mengantarkan kita menuju pada tingkatan ketaqwaan yang sebenar-benarnya taqwa  اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ  sebagai tangga menuju pada penyerahan diri  (al muslimun), kembali fitra kesucian, Jiwa yang tenang (al mutmainnah), mendapat pengakuan sebagai hamba dan panggilan khusus dari Allah SWT masuk ke dalam syurga  jannatun naim.■

*) Dari Khutbah Jumat 30 Syawal 1442 H/11 Juni 2021 M di Masjid Nurul Ilmi AMKOP Makassar