Taqwa dan Kearifan Lingkungan

Oleh : Prof. Dr. Ir. Mir Alam Beddu,MSi, Guru Besar Ekologi Pertanian Universitas Islam Makassar dan Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian PWNU  Sulawesi Selatan

TAQWA adalah tingkat/makam keberagamaan, setelah sekedar beriman, yang harus ditingkatkan kualitasnya menuju pada tingkatan ketaqwaan yang sebenar-benarnya taqwa untuk merebut predikat keberagamaan tertinggi penyerahan diri  al Muslimun

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang- orang  yang beriman, tingkatkan taqwamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kamu meninggalkan dimensi dunia ini, sebelum mencapai predikat berserah diri kepadaNYA (QS: Ali Imran (3):102

Praktek ketaqwaan dalam hidup berkaitan dengan kepatuhan hamba kepada Tuhan dalam melaksanakan perintahnya (amalan sholeh) dan berusaha menjauhi segala apa yang dilarang (maksiat), Berkaitan dengan peran kehambaan (ibadah ritual) maupun  kekhalifaan (muamalah), yang tidak terlepas dari rangkaian interaksi/hubungan dengan Allah (hablum minanallah), hubungan dengan manusia (interaksi sosial=hablum minannas), hubungan dengan lingkungan (hablum minal aalamin).

Hubungan yang harmoni dari ketiganya dapat menghadirkan kedamaian, kesejahteraan rahmatan lil aalamin. Dalam menata ketiga hubungan ini ada hak dan kewajiban, ada perintah ada larangan, ada akhlak/etika  dalam berhubungan/memanfaatkan alam/lingkungan.  Petunjuk utamanya ada dalam al Qur an, Hadis yang dicontohkan oleh Rasulullah  dan hamba-hamba yang dimuliakan oleh Allah

Peningkatan kualitas ketaqwaan tidak cukup hanya meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah (ibadah ritual, shalat, puasa, sedekah) dan hubungan dengan manusia,(dimensi sosial, saling menghargai, si pakatau)  akan tetapi harus utuh dengan peningkatan kualitas kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan, menjaga kebersihan, menjaga terumbuh karang, tidak merusak hutan (dimensi ekologi).

Sadar atau tidak, hidup dan kehidupan tidak pernah terpisah putus hubungan dengan lingkungan setiap detik kita menghirup udara (khususnya oksigen), oksigen bersih dilepaskan oleh tanaman, diminta atau tidak akan dilepaskan kelingkungan sebagai bentuk konsistensi “tasbih” makhluknya kepadaNYA.

Siklus air dan oksigen sebagai kebutuhan di bumi dikendalikan oleh tanaman,  rata-rata satu daun tanaman menghasilkan 5 ml oksigen per jam. Oksigen murni yang dikonsumsi oleh paru-paru manusia  sekitar 550 liter/hari, kebutuhan air minum rata-rata 1,5 liter per hari.

Betapa maha pengasih dan penyayangNYA  Allah kepada makhluknya, memberikan fasilitas kehidupan, betapa dermawannya lingkungan kepada kita semua, namun kebanyakan manusia lalai untuk memberikan perhatian kepada lingkungan, bahkan sebaliknya justu banyak yang merusaknya.

Berbuat baiklah kepada lingkungan sebagaimana lingkungan ikhlas berbuat baik kepada kita. Kepedulian, memelihara  lingkungan adalah perintah Tuhan, bagian dari ibadah, sebaliknya merusak lingkungan adalah bagian dari “kefasikan”, (Al. Baqarah (2):26-27).  

Ada tiga golongan manusia yang masuk fasik: Orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu diteguhkan, memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk disambungkan dan berbuat kerusakan dipermukaan bumi, 

…..Makan dan minum dari rezeki Allah tetapi jangan  bertebaran di bumi dengan berbuat kerusakan, (Al Baqarah (2):60 (…kuluu wasyrabuu min rizqillah walau ta’tsau fil ardhi mufsidin).

Jangan berbuat kerusakan karena Allah tidak meridhoi hambanya yang berbuat kerusakan 

Dan carilah pada apa yang dianugrahkan  Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan jangan lupa  bahagianmu kenikmatan dunia, dan berbuat baiklah (lingkungan, sosial, alam) sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi, Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang berbuat kerusakan ( QS: Al Qasas (28):77)

Berbuat baik kepada lingkungan bagian dari ketaatan, merupakan indikator kualitas keimanan dan ketaqwaan, tanpa berbuat apa-apa saja kepada lingkungan, lingkungan tetap ikhlas memberikan sumber kehidupan kepada manusia, namun demikian membalas kebaikan lingkungan pasti kita mendapatkan pahala dan kebaikan, sekaligus sebagai implementasi bentuk rasa syukur, dan jalan untuk merebut cinta, ridho dan kasih sayangNYA. 

Sekecil apapun perbuatan baik yang dilakukan pasti akan didapatkan dampak dan pahalanya, begitupula sebaliknya sekecil apapun perbuatan buruk yang dilakukan akan dirasakan akibatnya (QS: Az Zalzalah (99):7-8) 

Menghargai lingkungan adalah bagian dari akhlak Rasulullah, dan perintah Allah, mangamalkan dalam kehidupan adalah bagian dari ibadah 

Tidaklah orang yang menanam tanaman, bagian dari tanaman tersebut dimakan oleh hewan (burung), bernilai sedekah, dan mendapat pahala disisi Allah

Seandainya, besok sudah akan kiamat, masih ada biji ditanganmu, tanamlah, boleh jadi masih tumbuh dan bermanfaat bagi kehidupan.

Pemerintahan tradisional Mandar memandang keakraban manusia dengan lingkungan hidup dan alam sekitarnya harus terpelihara. Sukma manusia sangat erat hubungannya dengan sukma lingkungan, 

Pemerintahan tradisional Mandar, menggunakan kelestarian lingkungan, sebagai tanda keberhasilan pemerintahan. Tanaman digunakan untuk menguji etikat baik/buruknya seseorang pemimpin. Setelah dilantik, masing-masing menanam tanam pada suatu wadah yang disebut “soqbok” ketika tanaman nya tidak tumbuh subur, maka ada etikat tidak baik yang harus diperbaiki dalam menjalankan roda kepemimpinan, dan mendapat peringatan dan teguran dari hadat sebagai perwakilan masyarakat.

Peningkatan kualitas hubungan dengan Allah melalui ibadah ritual (shalat, wajib dan sunnat, tadarrus al quran dan dzikir)  akan membangun  kesholehan individu, Zakat , Infak dan sedekah dan hubungan silaturrahim membangun kesholehan sosial dan ramah dan peduli terhadap lingkungan membangun kesholehan lingkungan. Ketiga kesholehan ini membentuk  pribadi mulia, bertaqwa yang sebenar-benarnya taqwa sebagai tiket dan tangga menuju pada tingkatan puncak Al Muslimun. pribadi yang memiliki kualitas jiwa Mutmainnah yang insya Allah  akan mendapat panggilan khusus dari Allah SWT masuk ke dalam syurga  jannatun naim.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًفَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي   

Hai jiwa yang tenang (tenteram dan damai) kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku (yang saleh)  dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS: Al Fajr (89):27-30).■

*) Dari Khutbah Jumat 7 Jimadil Awal 1442 H/18 Juni 2019 M di Masjid Nurut Taubah Imam Lapeo Polman