Ramadhan Bulan Pendidikan dan Pelatihan Peningkatan Diri dan Lingkungan

Oleh : Prof. Dr. Ir. Mir Alam Beddu, M.Si, Guru Besar Ekologi Pertanian Universitas Islam Makassar & Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdatul Ulama Sulsel 

UIM News — Selama 1 bulan Ramadhan kita menata hawa nafsu dan  melatih seluruh potensi kecerdasakan untuk meningkatkan kualitas diri kita  dalam menata kehidupan yang lebih bermakna, bahagia di dunia sebagai jalan meraih kebahagiaan akhirat

Kumandang takbir Idul fitri kali ini semoga semakin menegaskan dan menyegarkan kesadaran kehambaan (abdillah), kesadaran akan kebesaran dan ketergantungan  kita kepada sang  KHALIK Kesadaran sebagai makhluk ciptaan Allah, makhluk yang telah Allah berikan berbagai macam kelebihan, keunggulan, dan kemuliaan, sehingga diberikan amanah untuk mengelolal alam dengan bertanggungjawab ke padaNYA (khalifatullah).

Kehidupan di dunia adalah lanjutan kehidupan dari alam rahim, membuktikan syahadat komitmen yang kita genggam dari alam rahim, membuktikan syahadatain, mempersiapkan bekal menelusuri jalan melanjutkan kehidupan baru di alam barzah, alam akhirat dan kembali ke padaNYA (ilaihi turjauun). Bekal untuk melanjutkan perjalanan adalah “KETAQWAAN”  yang diperoleh melalui ibadah ritual yang bermakna dan muamalah yang bertanggungjawab. 

Manusia terdiri (1) jasad (badan), tubuh kasar yang berasal dari satu (stem sel) membentuk jaringan,organ dengan keragaman struktur dan fungsi dan (2)  jiwa (badan energy, bioplasmik), tubuh halus yang saling berhubungan membentuk suatu sistem kehidupan karena mendapatkan potensi hidup, potensi kemuliaan, potensi kecerdasan  yang berasal dari NYA (Ar Ruhnya), kualitas jasad dipengaruhi kualitas jiwa begitu pula sebaliknya, kualitas diri juga mempengaruhi dan dipengaruhi kualitas lingkungan. 

Kualitas pribadi manusia tergantung pada  sejauhmana kedekatannya pada kualitas potensial yang berasal dari arruhNYA,  tercermin dalam pemikiran dan prilaku manusia yang akan membentuk sikap dan  akhlaknya. Potensi pemikiran yang cerdas dan prilaku mulia manusia sudah ada dalam diri setiap hamba mulai dari titik awal kehidupan yaitu  “stem sel” di dalam rahim yang dianugrahkan Tuhan ketika meniupkan sebagian ruhNYA kepada hambanya

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ [٣٢:٩]

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya rohNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. [Qs. Sajadah (32):9

Manusia diciptakan sebagai hamba untuk menyembah kepadaNYA dan sebagai khalifah untuk mengelola alam semesta melalui berbagai profesi. Untuk melaksanakan tugas kehambaan dan kehalifaan dipermukaan bumi manusia dilengkapi dengan “tool” alat berupa pendengaran, penglihatan dan fuad untuk memilih jalan hidupnya, ingin mendekati fitra kemuliaan (arRuhNYA), atau menjauhi.

Jalan hidup adalah pilihan dan kosekuensinya akan didapatkan sendiri oleh sang pemilih (kullu nafsin bimaa katsabat rahinatan) .  Alat yang diberikan oleh Allah kepada manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapannya. Innas sam’a walbashora wal fuadah KULLU ulaika kana anhu mas-uulaa  (Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan perasaan (fuad) aku akan mnta pertanggung jawabannya.

 Jati diri yang kuat serta sesuai dengan fitra kemanusiaan, terbentuk melalui jiwa yang kuat dan konsisten mendekati potensi kualitas jiwa tertinggi (ar-Ruh), serta  memiliki integritas, dedikasi dan  loyalitas terhadap pemilik Ar Ruh, Allah Rabbul Aalamin, menghadirkan DIRINYA (dzikrullah) dalam segala aktifitasnya.

Jiwa yang berkualitas akan menghasilkan pribadi yang cenderung berbuat kebaikan, dan berusaha selalu menghindari perbuatan-perbuatan yang merugikan dirinya, orang lain dan lingkungan (Jiwa yang Lawwaamah, pribadi al muttaqiin)

Menata  dan meningkatkan kualitas diri, tidak mudah karena, di dalam diri terdapat dua kekuatan yang tarik menarik, fujurahaa  (kekuatan tarikan syaitan) wataqwaaha (kekuatan tarikan malakat), yang sangat ditentukan oleh, baik buruknya, fisik, kerja dan respon segumpal daging di dalam diri, 

Sesungguhnya dalam diri manusia ada suatu gumpalan, kalau ia baik maka, baiklah seluruh kegiatan (jasad/prilakunya) dan kalau buruk, buruk pulalah (jasad/prilakunya), gumpalan itu adalah Hati (qalb)

Sensitifitas qalb dalam mekanisme kontrol diri dan nyambung dengan radar dan frekuensi spiritual (kontrol dan mendapatkan petunjuk Tuhan), harus dilatih, sehingga menjadi “permanen” dalam struktur sarafi, menambah sambungan2 neuron spiritual otak.

Ramadhan sebagai bulan pendidikan dan pelatihan akan mengasah gumpalan tersebut agar tetap baik  dan mudah bergetar, menuntun manusia menuju pada fitra diri, fitra kesucian untuk mendapatkan ridha dan kasih sayangnya, keselamatan dunia dan akhirat.

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dimana diturunkan al Quran (kitab dan hikmah) sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang meyakininya, bukan hanya bagi orang muslim akan tetapi bagi seluruh ummat manusia:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan  Al Quran (kitabbun walhikmah), sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil…… (QS.Al. Baqarah (2):185)

Berbagai rangkaian amaliyah ramadhan  akan meningkatkan kualitas diri, pribadi dan lingkungan antara lain sebagai berikut:

  1. Puasa selama satu bulan melatih diri untuk ikhlas, sabar, jujur dan patuh pada aturan untuk mencapai tujuan laallakum tattaqum (predikat kemuliaan), inna akramakum indallahi atqaaqum
  2. Qyyaamullail (tarwih/tahajjud), adalah amalan shalat sunnat untuk menyempurnakan ibadah puasa memperbanyak frekuensi nyambung dan komunikasi dengan Allah, selain komunikasi melalui shalat wajib dan sunnat lainnya.
  3. Memperbanyak dzikir dalam bentuk ungkapan kalimat toyyib bil khaer (mensucikan, ungkapan kesukuran, membesarkan dan mentauhidkan), dzikir dalam upaya menghadirkan sifatnya dalam berbagai aktifitas  (qiyaaman, waquudan waalaa junuubikum) berbagai profesi mengantar kita untuk mengingat dan merasakan kehadiranNYA untuk mengontrol dan memberikan petunjuk jalan yang diridhoainya
  4. Tadarrus al Quran, membaca dan memahami serta berusaha menerapkan dalam kehidupan nyata.  Al Quran berisi petunjuk untuk mengaktualkan fitradiri, melatih jiwa untuk selalu mendekat pada potensi kemuliaan tertinggi (Ar Ruh) yang tercemin dalam  sikap, prilaku dan akhlak manusia  yang terwajantahkan dalam kualitas pribadi dan lingkungan (sosial dan alam).  Al Quran adalah ayat  yang tertulis dan mengandung hikma,  cahaya dan ruh kemuliaan dan kesucian yang akan mengisi jiwa yang suci (Ruh Insaniyah)
  5. Zakat, Infak dan Sedekah, membangun empati, kesyukuran,  kepedulian sosial dan lingkungan

Puasa, Qyyyaamullail, tadarrus al quran, dzikir dengan imaanan wahtisaaban (keyakinan dan penuh koreksi diri) yang dilatihkan secara berkesinambungan mulai 10 hari pertama (rahmatnya),10 hari berikut mendapatkan pengampunan (magfirah), sebagai proses pensucian jiwanya, kembali mendekat ke fitrah kesucian sehingga pada 10 malam terakhir bulan suci ramadhan berpeluang besar mendapatkan “hikmah kesucian/ruh al quran” yang dibawah turun oleh makhluk berbadan suci/cahaya (ruhul qudus) malaikat karena izin Allah pada “lailatul qadar” tanazzalul malaaikatu warruhu fiihaa biidzni rabbika. 

Pribadi-pribadi yang berhasil mendekati fitra kesucian (Ar Ruh)  dalam proses pelatihan inilah yang berpeluang mendapatkan “hikmah” terpilih karena kehendaknya (yuttil hikmata man yasyaa), dan barang siapa yang diberikan hikmah itulah karunia, kebaikan yang banyak (waman yuttal hikmata fakad uutiya khairan ktasiiraa) 

Luaran bulan ramadhan adalah pribadi-pribadi yang muttaqin. Pribadi yang memiliki kontrol diri, kontrol lingkungan, kontrol sosial dan kontrol spiritual yang kuat untuk tidak melakukan aktifitas yang tidak diridhoai, merusak diri, lingkungan sosial dan alam, pribadi yang berusaha tidak berbuat kerusakan di bumi  ( laa tufsiduu fil ardhi, innallaha laa yuhibbul fasad  (karena Allah tidak menyukai hambanya yang berbuat kerusakan) 

Pribadi yang memiliki kontrol spiritual yang kuat, selalu  merasa tersambung dan merasakan kehadiranNYA kapan dan dimanapun berada, selalu terdorong untuk mengaktualkan/ mempraktekkan sifat-sifat muliaNYA, berbuat banyak bermanfaat bagi diri dan lingkungannya  sebagai implementasi  “kemuliaanya”  khairunnas anfauhum linnas wa anfauhum lil aalamin”  (manusia yang paling mulia adalah banyak bermanfaat bagi manusia dan lingkungan)

Pribadi yang berhasil meningkatkan kualitas diri dan keberagamaan dari sekedar beriman yang dipanggil  untuk melaksanakan ibadah puasa, menuju pada ketaqwaan lallakum tattaqun , sebagai tangga menuju tingkatan kualitas pribadi tertinggi, memiliki ketauhidan sejati menyerahkan diri  secara total kepadaNYA (al Muslimun)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ [٣:١٠٢]

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim (berserah diri)

Pribadi al Muslimun, memiliki kualitas jiwa mutmainnah yang insya Allah  diakui sebagai hamba, mendapat ridha dan akan mendapat panggilan khusus dari Allah SWT masuk ke dalam syurga  jannatun naim.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًفَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي   

Hai jiwa yang tenang (tenteram dan damai) kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku (yang saleh)  dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS: Al Fajr (89):27-30) 

Ramadhan, bulan yang penuh berkah, tamu agung yang datang satu kali satu tahun, telah meninggalkan kita. Merasakan kepergiannya pasti berbeda-beda tergantung pada sikap kita dalam menyambut dan memanfaatkan/ menemani tamu agung tersebut selama satu bulan, ketika kita sambut dengan biasa-biasa saja, kepergiannya biasa-biasa saja, boleh jadi dia pergi tanpa kesan kita tidak merasakan  apa-apa. 

Bagi yang menyambutnya dengan luar biasa akan merasa sedih akan kepergiaanya, namun jangan larut dengan kesedihan, bulannya telah pergi, akan tetapi amaliyahnya masih tetap hadir pada semua bulan, membuka diri untuk diamalkan (masih ada puasa syawal, puasa daud, puasa senin-kamis, qiyaamullail/tahajjud, dzikir, infak sedekah), untuk menjaga, mempertahankan bahkan meningkatkan ketaqwaan dan fitra diri .

Yang pasti,  sepanjang  bumi dan langit ini masih ada, tamu agung akan datang setiap tahun, akan datang  tahun depan. Yang tidak pasti dan tidak ada jaminan adalah apakah kita masih diberikan kesempatan untuk menyambutnya, pada tahun2 yang akan datang.  Untuk itu pertahankan ketaqwaan, kemuliaan , fitra kesucian  yang  di raih di bulan suci Ramadhan. Genggam dan hadirkan dia untuk menata  hidup, dan kehidupan, melaksanakan tugas kehambaan dan kekhalifaan sampai batas kontrak waktu yang tidak bisa mundur dan tidak bisa maju (laa yastakhiruuna saatan walaa yyastakdimuuna), dengan harapan masih mendapat kesempatan untuk menyambut tamu agung bulan suci ramadhan 1443 H. Amin.■

*) Disarikan dari naskah khutbah Idul Fitri yang disanpaikan di Masjid AL FATIH AL ANSHAR (Masjid Ka’bah) Makassar.