AG Dr KH Muhyiddin Zain, Tokoh Pendidikan Tinggi Islam Sulsel (8)

■ Teladan Akhlak dan Karakter Kepemimpinan

UIMsmart News — AG Muhyiddin dikenang sebagai pejabat yang membatasi diri dalam memakai fasilitas negara yang dipinjamkan kepadanya. Fasilitas yang menonjol ketika itu adalah rumah dinas yang merupakan aset Pemerintah Daerah setempat dan mobil dinas. menurut penuturan teman sejawat, Ia sering menggunakan angkutan umum pergi ke kampus.

Dan pada saat berhenti sebagai rektor ia segera mengembalikan kendaraan dinas berupa Toyota sedan. Peristiwa itu berkesan bagi sebagian mahasiswa pada saat itu yang sempat diceriterakan oleh seorang mahasiswa senior. 

AG Muhyiddin sering mengemudikan sendiri mobil Jeep yang sudah dimakan usia pergi ke kampus IAIN di Makassar pada saat baru pulang dari Cairo. Menurut penuturan Hj. Andi Ukdah, mengutak atik kendaraan dan menyetir sendiri kendaraan ke daerah merupakan salah satu kesenangan AG Muhyiddin.

Pengendalian diri tidak hanya dalam hal pemanfaatan fasilitas jabatan, AG Muhyiddin juga menahan diri dalam hal jabatan yang dipandangnya tidak tepat. Ia menolak ketika ditawari untuk memimpin kembali Fakultas tarbiyah. Ia merasa tidak pada tempatnya, dirinya yang sudah pernah memimpin institut turun memimpin fakultas.

Prinsip seperti ini menjadi sangat penting untuk direnungkan oleh banyak orang di tengah hiruk pikuk percaturan politik untuk memperebutkan jabatan melalui mekanisme pemilihan. beberapa orang yang sudah menduduki jabatan tertentu, mencalonkan diri kembali untuk memperebutkan jabatan yang lebih rendah dari jabatan yang mereka duduki sebelumnya. 

Pengakuan masyarakat luas maupun ulama terhadap integritas pribadi dan keilmuan AG Muhyidin dapat dilihat dari kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk menjadi Ketua Umum Yayasan Mesjid Raya Makassar/Ujung Pandang. Mesjid Raya Makassar pada waktu itu merupakan mesjid terbesar dari ukuran maupun jumlah jamaah yang menunaikan ibadah salat.

Khutbah Jumat dan ceramah agama pada bulan suci Ramdhan di mesjid ini biasanya disiarkan secara langsung melalui RRI Makassar. KH Muhammad Ahmad  menilainya sebagai orang yang ibadahnya baik, rajin menunaikan salat jamaah Subuh di Mesjid Raya, meskipun tempat tinggalnya berada pada jarak sekitar dua kilometer dari mesjid.

AG Muhyiddin dinilai sebagai pemimpin yang tidak otoriter dalam mengemukakan pendapat. Ia tergolong visioner dalam rangka pengembangan institusi. Ia mengajak teman sejawat untuk menjadi pribadi yang maju. Ia mengajak dosen untuk mengembangkan metode pembelajaran dan menumbuhkan suasana akademik. Komunikasi dengan teman sejawat bagus, suka membimbing. Ia memiliki jiwa kepemimpinan yang kharismatik.

Kharisma yang kuat itu terlihat dari kemampuannya menyelesaikan masalah yang timbul di kampus. Kata Prof. Dr. H. Iskandar Idy, M.Ag., pada masa itu ada pernyataan yang terkenal, “Kalau Pak Muhyiddin sudah memanggil mahasiwa, urusan sudah selesai.” Ia menambahkan bahwa Pak Muhyiddin memberikan teladan bagi mahasiswa dari segi keilmuan dan spirit untuk maju.

Kepeloporan yang dikembangkan oleh AG Muhyiddin terlihat ketika ia mendorong pengembangan majelis taklim pada akhir dekade tahun 1960-an di Makassar. Dorongan itu ia sampaikan kepada salah seorang aktivis Fatayat NU pada masa itu yang bernama masating (Dra.hj). beliau terinspirasi ketika baru pindah ke Makassar dari Yogyakarta.

Ia bertetangga dengan penganut agama Kristen di Jalan Ahmad Dahlan, yang pada setiap Kamis malam menyanyikan lagu-lagu rohani. Menrut Andi Mukramin SE ayahnya turut memberi andil pada penyelenggaraan MTQ nasional yang pertama kali di Makassar pada tahun 1968. Sejak MTQ I yang disusul even serupa berikutnya ayahnya selalu aktif berpartisipasi sebagai anggota dewan hakim.

AG Muhyiddin telah menunjukkan semangat dan perjuangan untuk memajukan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan, terutama pendidikan tinggi. Ia menunjukkan kepeloporan sebagai sarjana agama pertama kelahiran Sulawesi Selatan, jebolan perguruan tinggi agama, dalam kondisi sosial yang tidak mudah.

Dedikasinya dalam rangka pembinaan umat dan masyarakat melalui pendidikan dan dakwah membuahkan hasil yang nyata karena diteruskan oleh generasi pelanjut. Kemajuan lembaga pendidikan yang ia dirikan dan perguruan tinggi yang pernah ia pimpin menjadi bukti dari suatu kepemimpinan yang efektif.

Kualitas keilmuannya diakui oleh teman sejawat, masyarakat luas, dan pakar terkait dari luar negeri. Ia menampakkan karakter yang kuat sebagai pemimpin yang kharismatik, mempunyai relasi yang baik dengan pejabat pemerintah daerah, sesama pimpinan perguruan tinggi, pemuka agama Islam dari berbagai golongan. Ia disenangi banyak pihak, dicintai oleh orang-orang di lingkungan sekitar, dan disegani oleh mahasiswa di kampus sendiri dan warga kampus pada umumnya.■ selesai/fir

*) Sumber: Makalah penelitian berjudul “HAJI MUHYIDDIN ZAIN: Tokoh Pendidikan tinggi Islam di Sulawesi Selatan” Oleh HM Hamdar Arraiyyah (Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Jakarta Pusat)