AG Dr KH Muhyiddin Zain, Tokoh Pendidikan Tinggi Islam Sulsel (6)

■ Sosok Pribadi yang Berkarakter

UIMsmart News — AG Muhyiddin memiliki wibawa yang besar di mata orang-orang yang ada di sekitarnya. Prof Dr Iskandar Idy MAg, Ketua Yayasan Al Gazali UIM di masanya, menyebutnya beliau sebagai satu di antara tiga tokoh yang disegani pada masa itu, yakni rektor Universitas Hasanuddin, rektor IKIP dan rektor IAIN. 

Wibawa itu ditunjang oleh ilmu yang dalam, penampilan lahiriah yang necis, sifat-sifat yang baik, ketaatan dalam menjalankan ibadah, relasi yang baik dengan banyak orang, dan sejumlah prinsip hidup yang kuat. 

Ia adalah salah satu tokoh panutan umat pada umumnya dan warga NU pada khususnya di Sulawesi Selatan. Ia adalah akademisi yang handal dan dihormati oleh masyarakat. 

Penghormatan yang luas itu tidak terlepas dari aktivitas beliau yang sering menyampaikan ceramah agama. Ceramah dibawakan dalam berbagai forum, seperti masjid dan muktamar. Ceramah atau khutbah Jumat yang disampaikan di Masjid Raya Makassar di Jalan Andalas, biasanya disiarkan secara langsung oleh RRI (Radio Republik Indonesia) Makassar.

Bahkan menurut penuturan Prof. Dr. Iskandar Idy, banyak warga masyarakat yang menantikan jadwal AG Muhyiddin menyampaikan ceramah yang disiarkan melalui radio. Prof. Iskandar menyebutnya sebagai orator yang baik.

Ketokohan itu paling tidak dilihat dari segi wibawa keilmuan, kepemimpinan, integritas, dan popularitas di kalangan masyarakat terpelajar. Informan ini juga mengatakan bahwa AG Muhyiddin sangat disegani oleh mahasiswa. 

Salah satu kekuatan AG Muhyiddin dalam menyampaikan pidato ialah cara penyampaian melalui bahasa yang mudah dipahami oleh audiens, penggunaan bahasa Indonesia yang bagus, suara yang khas dan jelas, dan gagasan-gagasan yang baru dan aktual.

Pada suatu kesempatan menyampaikan ceramah tarwih di Mesjid Raya Makassar sekitar tahun 1975-1978 ia menyatakan bahwa dalam menjalankan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, seseorang tidak hanya berdiam di masjid, memperbanyak ibadah, dan memperbanyak zikir. 

Lebih dari itu, orang yang menjalankan i‘tikaf hendaknya memanfaatkan momen itu untuk merenungkan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam dan memikirkan langkah-langkah untuk memajukan umat. 

Ia juga menyatakan bahwa nilai umur bagi manusia bukan ditentukan oleh lamanya hidup di dunia, tetapi ditentukan oleh kualitas umur manusia. Gagasan ini ia sampaikan dengan  merujuk kepada filosof muslim Ibnu Sina sekaligus menunjuknya sebagai contoh. Filosof ini meninggal dalam usia lebih sedikit dari lima puluh tahun. Gagasan ini tampaknya diterapkan oleh beliau sehingga apa yang disampaikan itu memiliki kekuatan, tidak hambar. 

Pada kesempatan lain sekitar tahun awal tahun 1970-an di Masjid Raya Darus  Salam Watan Soppeng, ia mengatakan bahwa gangguan yang terjadi pada alam disebabkan oleh faktor  fisik dan non fisik. Ketika itu, terjadi musim kemarau yang berkepanjangan di Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Soppeng. 

Pada waktu itu ada laporan di media massa yang menyebutkan adanya kejadian alam yang menyebabkan terjadinya kemarau yang panjang. Sehubungan dengan hal itu, AG Muhyiddin mengingatkan bahwa musibah pada alam memang bisa jadi disebabkan oleh faktor-faktor yang sifatnya fisik. 

 Namun ia  juga mengingatkan bahwa keadaan yang terjadi pada lingkungan alam bisa juga disebabkan oleh faktor non-fisik. Dalam kaitan ini, ia mengingatkan bahwa perilaku manusia yang menyimpang dari tuntunan Allah bisa menjadi sebab adanya cobaan seperti kemarau yang dialami oleh masyarakat pada waktu itu. 

Pandangan ini sesungguhnya memiliki landasan teks yang kuat, baik dari Al-Qur’an mapun hadis dan sering disampaikan oleh mubalig yang lain, namun kata kunci faktor fisik dan non fisik sebagai penyebab cobaan membuat ceramah itu memiliki daya tariknya sendiri di kalangan jamaah.

Wawasan ilmiah menjadi salah satu daya pikat cermah beliau di kalangan orang-orang terpelajar. Pemikiran yang ia sampaikan itu sekaligus menjadi salah satu releksi dari pandangan teologisnya yang tradisional, mengikuti faham Ahlus Sunnah wal jamaah.

Ia bukan pemikir yang mengikuti aliran rasional, hanya mau menerima pandangan yang dirasakan sejalan dengan pendapat akal. 

Pada waktu menyampaikan pidato pada muktamar Darud Dakwah wal Irsyad di Pare-Pare pada tahun 1971 ia mengemukakan sebuah pernyataan yang diambil dari buku berbahasa Arab. 

Ketika itu ia mengutip pendapat yang mengatakan bahwa orangtua hendaknya tidak memaksakan anak-anak mereka untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan, sebab anak-anak itu lahir untuk zamannya sendiri. melalui kutipan ini, ia tampaknya memperkenalkan pemikiran tentang demokrasi pendidikan yang dikembangkan oleh tokoh muslim. 

Kutipan ini relevan dengan acara muktamar yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi Islam yang bergerak di bidang pendidikan dan dakwah. Ceramah pada waktu itu ia sampaikan di kampus Pesantren DDI Ujung Lare, Pare-pare.

Sebagai guru bahasa Arab, metode dan teknik mengajar yang dikembangkan oleh AG Muhyiddin tampaknya mengacu pada prinsip-prinsip pengajaran bahasa asing yang menggunakan metode eklektik (gado-gado), campuran berbagai metode. Ia biasanya menggunakan bahasa asing tersebut dalam mengajar. Ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pada dasarnya belajar bahasa itu adalah mendengarkan dan menirukan.

Ini juga sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa belajar bahasa harus dimulai dengan penggunaan kalimat. Beliau mengajarkan bahasa dan bukan sebatas mengajar tentang bahasa. Ia mengarahkan agar para siswa/mahasiswa memiliki pengetahuan dan skills (listening, writing, speaking, dan reading).

AG Muhyiddin menginginkan semua muridnya berhasil. Misalnya dengan memberi kesempatan menjawab atau berlatih bagi setiap murid di kelas, seperti ia peragakan saat memberikan bimbingan bahasa Arab pada calon peserta ujian sarjana muda Pendidikan Agama Islam di Soppeng, yang ketika itu berlangsung di gedung Sekolah Dasar negeri Ujungwatan Soppeng. 

Ia juga menerapkan prinsip yang menyatakan, guru bukan hanya mengajar kelas, namun mengajar setiap siswa di kelas. Sejalan dengan prinsip ini, sesuai apa yang dituturkan oleh KH Muhammad Ahmad maka ia menegur siswa yang kelihatannya malas mengikuti pelajaran.■ bersambung/fir

*) Sumber: Makalah penelitian berjudul “HAJI MUHYIDDIN ZAIN: Tokoh Pendidikan tinggi Islam di Sulawesi Selatan” Oleh HM Hamdar Arraiyyah (Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Jakarta Pusat)