AG Dr KH Muhyiddin Zain, Tokoh Pendidikan Tinggi Islam Sulsel (5)

■ Memimpin Organisasi Keagamaan Islam

UIMsmart News — AG Muyiddin Zain dikenal sebagai tokoh NU di Sulawesi Selatan. Peran ini ia jalani sejak kembali dari Yogyakarta, pada akhir tahun 1963. Pada tahun 1964 ia terpilih sebagai Wakil Ketua Taniziyah NU Sulawesi    Selatan. 

Pada tahun 1966 ia dipilih sebagai Ketua Panitia hari Lahir (harlah) Nahdlatul Ulama di daerah ini. Panitia inti pada waktu itu antara lain Drs H Abdurrahman yang lebih populer dengan sebutan Abdurrahman Bola Dunia (karena keaktifannya sebagai pengurus NU) sebagai sekretaris, dan Haji Kalla (ayahanda H Muhammad Jusuf Kalla) sebagai bendahara. 

Peringatan hari lahir ini masih dalam suasana politik pasca gestapu G30S/PKI. Seiring dengan suasana itu, maka kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka Harlah tersebut meliputi pengarahan massa mulai dari Apel  akbar di lapangan Karebosi Makassar dan lapangan gasis watan Soppeng, resepsi Harlah di gedung olah raga Mattoanging Makassar; Pawai keliling kota Makassar dan kailah ke daerah hingga pembacaan doa selamat di masjid-masjid.

Usaha-usaha menonjol, yang dicatat oleh Abdurrahman Bola Dunia dengan sebutan proyek 

monumental, oleh Pengurus NU Sulawesi Selatan yang digerakkan oleh AG Muhyiddin, antara lain: mendirikan Panti Asuhan “Nahdliyat” yang dikelola oleh Muslimat NU dan dipimpin oleh Umi Aisyah Yhahir di Jalan Anuang Makassar, sampai sekarang.

Mendirikan taman Kanak-Kanak “Ade Irma Nasution” yang dikelola oleh Fatayat NU Sulsel dipimpin Salmah Bustami. Pembukaannya dilakukan oleh Nyonya AH Nasution di Jalan Irian no. 72 Makassar.

Mendirikan SMP dan SMA “Irnas” singkatan dari Irma Nasution. Sekolah ini dikelola oleh IPNU/IPPNU dan dipimpin oleh Jasan Faqih, Anwar Bustami, dan Aco Langa. Lokasinya di jalan Irian no. 72 Makassar. 

Mendirikan Poliklinik NU yang dikelola oleh SARBUMUSI Sulsel dan dipimpin oleh Aziz Jaya, Misbahuddin, dan La Nuri. Dan  mendirikan Akademi Dakwah yang dikelola oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan dipimpin oleh Husain Abbas dan Umar Syihab.

Peresmian dilakukan oleh Muh Natsir Said, Rektor Universitas Hasanuddin ketika itu. Ini juga membenarkan penialain yang dikatakan oleh Prof. Dr. Andi Rasdiana bahwa AG Muhyiddin  mempunyai hubungan yang baik dengan pimpinan perguruan tinggi di Makassar, 

seperti Universitas Hasanuddin, IKIP, Universitas Muslim Indonesia, dan juga dengan Pemerintah Daerah.

Akademi Dakwah kemudian berubah menjadi  Fakultas Dakwah dari Universitas Nahdlatul  Ulama. Dibentuk pula Banser (barisan Ansor  Serba Guna) di Makassar yang merupakan 

bagian dari gerakan Pemuda Ansor yang ketika itu dipimpin oleh HM. Saleh Bustami 

untuk wilayah Sulawesi Selatan dan Alwi Gani untuk wilayah Kotamadya Makassar. 

Peresmiannya dilakukan oleh Panglima Kodam XIN Hasanuddin, Solihin GP berlangsung di Lapangan Segitiga Balaikota Makassar. Juga menerbitkan surat kabar harian Duta Masyarakat edisi Sulawesi Selatan yang dikelola oleh Andi Baso Amir dan Dahlan Saleh. Pemimpin redaksi Rahman Arge dan staf redaksi terdiri dari Arsal Alhabsyi, Harun Rasyid Jibe, Abdurrahman, Sahabuddin Gading, dan Edi Sanjaya.

Serta mendirikan pemancar radio suara Aswaja Alkawakib yang beralamat di gedung ma’arif jalan Ujung 151/3 Makassar; dan mendirikan madrasah dan pesantren yang dikelola oleh ma’arif Sulsel di bawah pimpinan M Ya’la thahir bersama Andi Namba dan SD Hasyim Asy’ari yang diprakarsai oleh Abdullah Daud, Abdurrahman dan Abd Rahim, Kepala Lingkungan Lakkang bertempat di jalan Korban 40.000.30 Lembaga pendidikan ini sudah lama tidak dikenal ekistensinya. 

Lembaga pendidikan yang berkembang di kemudian hari di bawah pimpin Drs HM Amin Rahim di Jalan Ujung adalah SMP Ma’arif. Semangat seperti itu menginspirasi warga NU untuk mengembangkan lembaga pendidikan di kemudian hari. Pesantren yang didirikan oleh kader NU seperti KH Muhammad Haritsah dan juga pesantren NU di Maros, dan pesantren milik NU di Desa Sering Soppeng yang baru berumur sekitar delapan tahun. 

Salah satu usaha NU Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinan AG Muhyiddin yang berkembang terus hingga sekarang adalah Universitas Nahdlatul Ulama yang mempunyai sejummlah fakultas di beberapa daerah seperti, Makassar, Soppeng, Bone, Tanete Bulukumba, dan Barru. 

Fakultas Dakwah di makassar merupakan cikal bakal dari Universitas Islam Makassar (UIM) yang berkembang cukup pesat hingga pada waktu sekarang. Jumlah mahasiswanya sekitar 5.000 orang. Universitas Nahdlatul Ulama mengalamai perubahan nama menjadi Universitas Al-Gazali karena tuntutan kondisi politik setelah tahun 1971, awal orde baru. 

Perubahan berikutnya adalah pembentukan Sekolah tinggi Ilmu Dakwah Al-Gazali dan Sekolah tinggi Ilmu Pertanian Al-gazali yang kemudian lebur ke dalam UIM sejak tahun 2000 hinga sekarang. Fakultas tarbiyah di beberapa daerah berubah menjadi STAI, yaitu STAI Al-gazali Soppeng, STAI Al-gazali Bone, dan STAI Al-Gazali Bulukumba. 

Fakultas Sospol dan Fakultas hukum di Soppeng dipisahkan dari organisasi Nahdlatul Ulama di kemudian hari. Belakangan Fakultas hukum (sekarang STLH) dikembalikan ke organisasi NU. AG Muhyiddin menjadi salah satu pemrakarsa utama dari pendirian UNNU di Sulawesi Selatan. Peran itu dapat ia lakukan karena didukung oleh pengalamannya sebagai guru dan dosen selama bermukim di  Yogyakarta dan tuntutan situasi pada waktu itu. 

Pada masa itu perguruan tinggi swasta yang lebih dahulu ada adalah Universitas Muslim Indonesia yang dikelola oleh sebuah badan wakaf yang pengurusnya terdiri dari para ulama dan tokoh masyarakat, Universitas Sawerigading yang diasuh oleh Prof Nuruddin Syahadat dan Universitas Muhammadiyah yang dikelola oleh organisasi Muhammadiyah. 

Pada awalnya UNNU Sulawesi Selatan merupakan cabang dari UNNU Jakarta/Bandung. Dies natalis I perguruan tinggi ini diadakan di Watan Soppeng dirangkaikan dengan pelantikan AG Muhyiddin Zain selaku kuasa rektor. Pelantikan dilakukan oleh rektor UNNU Bandung/Jakarta H Zubchan ZE di gedung DPRD II Soppeng pada tahun 1968. Pada masa ini Wakil Bupati Soppeng, Andi Bintang dan beberapa pejabat penting lainnya di jajaran pemerintah daerah adalah anggota NU. 

Pada saat AG Muhyiddin melanjutkan pendidikan S3 di Universitas Al-Azhar, jabatan rektor dilimpahkan sementara kepada Drs H Abd. Rahman (Bola Dunia), hingga kembali pada tahun 1976. menurut penjelalasan lisan AG Muhyiddin ketika baru tiba dari Cairo, pihak Universitas Al-Azhar menerima proposal disertasi yang ia ajukan. 

Ia dipersilahkan langsung untk menulis disertasi, sementara ada peserta program serupa dari Indonesia diharuskan terlebih dahulu untuk mengikuti bimbingan khusus sebelum menulis disertasi. Kesempatan selama berada di Cairo ia manfaatkan untuk mengikuti kursus bahasa Perancis. Sebelumnya, ia juga dikenal memiliki penguasaan bahasa Inggris yang baik. Ia kemudian kembali ke tanah air dan memimpin Universitas Al-Gazali (sekarang UIM) hingga wafatnya pada tahun 1979.■ bersambung/fir

*) Sumber: Makalah penelitian berjudul “HAJI MUHYIDDIN ZAIN: Tokoh Pendidikan tinggi Islam di Sulawesi Selatan” Oleh HM Hamdar Arraiyyah (Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Jakarta Pusat)