UIM Rencana Buka Prodi Bahasa Isyarat bagi Kelanjutan Studi Siswa Dishabilitas

Universitas Islam Makassar (UIM) berencana membuka program studi Bahasa Isyarat. Program studi baru ini dirancang untuk calon guru, alumni mahasiswa dan dosen yang mengajar Bahasa Isyarat.

Hal ini diungkap Rektor UIM Dr Ir Hj A Madjah M Zain MSi saat membuka Workshop Bantuan Dana Inovasi Pembelajaran dan Teknologi Bantu (Teknologi Asistef) oleh Fakultas Sastra dan Humaniora UIM di Makassar, Sabtu (14/11). 

Ke depan, kata Majdah, program studi ini sangat dibutuhkan mengingat pemerintah Indonesia sangat konsen melakukan perbaikan tarap hidup pada masyarakat berkebutuhan khusus. “Saya sangat support dan mendukung penuh bila fakultas Sastra untuk membuka prodi Bahasa Isyarat. Ini bisa menjadi penciri UIM sebagai universitas yang konsen terhadap pembelajaran berkelanjutan siswa dan guru berkebutuhan khusus,” ujarnya.

Penciri lain kampus UIM konsen terhadap pembelajaran dishabilitas, lanjut Majdah, gedung baru UIM yang sedang dibangun sangat ramah dengan dishabilitas. “Di gedung rektorat baru kami menyiapkan tangga kursi roda untuk penyandang dishabilitas,” katanya.  

Menurut Ketua Kompetisi Penyandang Dishabilitas se-Indonesia atau Special Olimpics Indonesia (SOIna) Sulsel itu,  partisipasi dan dukungan lain terhadap disabilitas di Sulsel yakni melibatkan mahasiswa pada olimpiade Paralimpiade di Makassar, beberapa tahun yang lalu.  

“Kita juga memiliki mahasiswa penyadang disabilitas yang saat ini menempuh kuliah di FKIP UIM, dimana anak tersebut telah berulangkali mengikuti Paralimpiade baik tingkat nasional maupun internasional,” kata Majdah. 

Paralimpiade adalah sebuah pertandingan olahraga dengan berbagai nomor untuk atlet yang mengalami cacat fisik, mental dan sensoral. Cacat ini termasuk dalam ketidakmampuan dalam mobilitas, cacat karena amputasi, gangguan penglihatan dan mereka yang menderita Cerebral Palsy.

Paralimpiade diselenggarakan setiap empat tahun, setelah Olimpiade, dan diatur oleh Komite Paralimpiade Internasional (IPC).

Workshop yang berlangsung sehari ini menghadirkan pemateri masing-masing Rektor UIM yang juga Ketua SOIna Sulsel, Wakil Rektor I UIM Makassar, Dr HM Arfah Shiddiq MA, Prof Dr Muhammad Yaumi, MHum, (pakar Teknologi Media Pembelajaran dari UIN Alauddin Makassar), dan M. Yakub Abdullah, S.Sos, M.Si (Perwakilan Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik Wirajaya Wilayah Makassar). 

Ketua Panitia pelaksana Workshop, Dahniar SPd MPd, menyatakan, latarbelakang diadakannnya workshop ini berawal dari pengumuman Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen BELMAW, Kemenristek Dikti tahun 2020 yang mengeluarkan kebijakan pemberian bantuan dana inovasi pembelajaran dan teknologi bantu (Teknologi Asistif) untuk mahasiswa berkebutuhan khusus di perguruan tinggi pada bulan Agustus 2020 lalu.  

“Workshop ini merupakan salah satu rangkaian dari bantuan dana inovasi pembelajaran tersebut,” kata Wadek 1 Fakultas Sastran daan Humaniora UIM ini.■ fik/fir