Peran Digitalisasi dan Startup dalam Pembangunan Sektor Pertanian Dimasa Depan

Oleh : Dr. Syamsul Rahman, S.TP, M.Si, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM)

UIMsmart News — “Digitalisasi telah terjadi di berbagai sektor, tak terkecuali di bidang pertanian. Digitalisasi di bidang pertanian harus terus didorong agar visi dalam mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045 dapat tercapai”.

Saat ini petani Indonesia mulai didominasi kalangan tua yang berusia 45 tahun, yakni sebanyak 61 persen. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa 37,77 juta penduduk Indonesia bekerja di sektor pertanian, lebih besar dari sektor-sektor bisnis lainnya. Namun, belum banyak anak-anak muda yang tertarik dengan dunia pertanian konvensional. Untuk itu, dengan mendorong tumbuhnya pertanian digital, diharapkan akan mampu melahirkan banyak petani milenial.

Bidang pertanian merupakan sektor yang cukup vital sehingga penting untuk mencari terobosan-terobosan yang bisa mendorong agar sektor pertanian ini semakin berkontribusi positif dalam pembangunan nasional dimasa depan. Untuk itu, dibutuhkan inovasi dalam rangka menunjang keberlangsungan bisnis pertanian dengan kehadiran startup bidang pertanian sebagai jawabannya. Sebagai sebuah bisnis, startup menggabungkan antara dunia dunia digital dengan dunia pertanian, yang berperan untuk mempersatukan beberapa pihak yang saling terkait untuk mengembangkan bisnis di bidang pertanian.

Konsep Digitalisasi dan Startup Pertanian

Di era revolusi industri 4.0 ini, mengintegrasikan pertanian dalam sistem digital adalah salah satu solusi yang bisa dilakukan, inovasi ini cukup responsif dengan perkembangan zaman yang semakin akrab dengan sistem internet. Geliat pertanian digital ini akan mempermudah akses bagi petani untuk lebih terlibat dalam mengawal seluruh proses pertanian termasuk produksi dan segala kegiatan ekonominya. Petani juga akan teredukasi terkait rantai produksi bahkan bisa mengetahui kinerja tengkulak yang bermain dalam pasar.

Dengan bantuan teknologi, petani juga akan semakin paham tentang kondisi tanamannya. Namun disisi lain, konsep pertanian digital akan mendapat hambatan jika petani sendiri tidak melek teknologi atau belum mengerti dalam menggunakan smartphone. Hal ini dimungkinkan, sebab jumlah petani dengan usia tua yang cukup besar dan jauh di pelosok desa masih jauh dari sentuhan teknologi digital. Tujuan dari program digitalisai pertanian adalah untuk mentransformasi sektor pertanian yang saat ini masih tradisional agar menjadi lebih modern dan mendidik petani menjadi pengusaha agribisnis andal. Saat ini banyak pengembang aplikasi yang fokus menggarap hasil pertanian. Pada umumnya yang bermain di sektor ini adalah generasi muda yang tergerak untuk berkiprah di bidang pertanian.

Sedangkan konsep startup bisa diartikan sebagai bisnis rintisan atau bisnis baru benar-benar dibuka. Pada perkembangannya, startup terkait dengan bisnis yang baru dijalankan dengan karakteristik sebagai berikut. Pertama, usia perusahaan kurang dari 3 tahun dan jumlah pegawainya kurang dari 30 orang. Kedua, berkaitan dengan teknologi informasi, baik perusahaan teknologi maupun menawarkan produk melalui perantara teknologi informasi, terutama internet. Ketiga, produk yang ditawarkan berupa aplikasi dan berbentuk digital. Keempat, beroperasi melalui website.

Kelima, memiliki model bisnis yang unik, inovatif, dan menawarkan sesuatu yang baru kepada konsumennya. Keenam, menjadi problem solver yang memberikan solusi baru bagi masyarakat berupa produk yang lebih baik, harga yang lebih murah, mudah digunakan, dan sistem kerja sama yang baru. Ketujuh, penampilan para pendiri, pemilik, dan pemimpin perusahaannya yang lebih santai dibandingkan dengan perusahaan konvensional. Kedelapan, Modal usahanya diperoleh dari investor, baik perorangan, perusahaan, atau venture capital dengan sistem bagi hasil. Kesembilan, mampu bergerak cepat, berkembang menjadi perusahaan besar karena berkolaborasi dengan investor yang dananya tidak terbatas.

Startup Pertanian melalui Aplikasi Digital

Keberadaan para pengembang aplikasi digital untuk bisnis startup menjadi sangat penting, sebab umumnya petani kesulitan dalam menembus pasar. Dengan potensi pasar digital yang semakin berkembang, hal ini memungkinkan produk pertanian bisa diserap lebih baik sehingga petani bisa memasarkan hasil kerja kerasnya. Salah satu contohnya adalah startup Kecpir.com sebagai marketplace yang menjual aneka sayuran, buah-buahan, dan berbagai produk pertanian lainnya yang berbasis online.

Pengembang aplikasi yang juga fokus di bidang pertanian adalah startup Simbah. Simbah merupakan aplikasi yang bisa membantu petani untuk bertanya segala hal tentang dunia pertanian. Selain itu, mereka pun bisa membantu petani untuk menjual hasil panen langsung kepada konsumen, sehingga bisa meningkatkan harga jual hasil panen tersebut. Pengembang aplikasi lainnya adalah startup Karsa. Aplikasi ini sebagai perwujudan konsep pertanian digital yang berfungsi berbagi pengetahuan kepada petani. Selain memberikan informasi pertanian kepada petani, produsen produk pertanian, serta pemerintah, melalui aplikasi ini petani juga bisa mendapatkan informasi cara menanam tanaman yang baik. Di sisi lain, produsen dan pemerintah juga bisa mengetahui apa saja hal yang dibutuhkan oleh petani, serta memonitor harga produk pertanian di pasar.

Selain itu, ada juga startup Eragano, yang merupakan sebuah startup yang menyediakan solusi dari hulu ke hilir di sektor pertanian. Aplikasi ini dapat membantu petani terkait penjualan perlengkapan pertanian dan pupuk, penjualan hasil panen, sistem pengelolaan sawah, sampai pemberian pinjaman untuk petani. Demikian juga startup iGrow, yang merupakan platform digital yang memungkinkan untuk berinvestasi di bidang pertanian dan memantaunya secara online. iGrow menghubungkan tiga pihak di industri pertanian, investor, petani, dan konsumen.

Selain startup-startup tersebut diatas, masih ada beberapa startup lain yang memiliki fokus yang sama, yaitu untuk mengembangkan usaha di bidang pertanian. Kehadiran stratup-startup ini diharapkan mampu menjadi daya dorong agar pembangunan sektor pertanian semakin berjaya di masa depan.

Tren Startup di Bidang Pertanian

Startup bidang pertanian di Indonesia mulai digunakan sejak meluasnya penggunaan internet dan bermunculannya bisnis (usaha) yang terkait dengan teknologi internet. Menurut iGrow (2018) pada tahun 2016, Indonesia bahkan memiliki jumlah startup tertinggi se-Asia Tenggara dengan total 2000 startup. Pertumbuhan ini juga diprediksi akan terus meningkat hingga 6,5 kali lipat pada tahun 2020. Eksistensi bisnis startup juga mendapatkan dukungan dari pemerintah, tujuannya melahirkan 1000 perusahaan rintisan baru yang berkualitas dan mampu memberikan solusi atas segala permasalahan yang ada di Indonesia.

Kemunculan berbagai startup bidang pertanian di dalam negeri, seperti yang dilakukan iGrow dan beberapa startup lainnya, sebagai bukti bahwa para pebisnis startup tidak melupakan budaya aslinya sebagai negara agraris. Pasalnya, dengan potensi jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar membuat kebutuhan berbagai komoditas pangan meningkat, sehingga dibutuhkan berbagai startup yang terkait dengan bisnis pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan dimasa depan.■ fir